SMA
NEGERI 20 SURABAYA
OLEH
:
NAMA
: BERLIAN DUTA KRISNA
KELAS : XII-C
ABSEN : 08
KELAS : XII-C
ABSEN : 08
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Setiap
makhluk hidup pasti mengalami pertumbuhan. Di dalam pertumbuhan terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tersebut. Salah satu faktor yaitu
adanya hormon auksin teradap cahaya
Biji kacang hijau sangat menarik dan praktis untuk menjadi bahan penelitian karena cepat mengalami pertumbuhan. Penelitian ini untuk mengetahui besarnya pengaruh cahaya pada pertumbuhan pada tumbuhan
Biji kacang hijau sangat menarik dan praktis untuk menjadi bahan penelitian karena cepat mengalami pertumbuhan. Penelitian ini untuk mengetahui besarnya pengaruh cahaya pada pertumbuhan pada tumbuhan
Rumusan Masalah
-
Apakah cahaya matahari mempengaruhi
kecepatan tumbuh pada tanaman di tempat yang berbeda intensitas cahayanya?
-
Bagaimana perbedaan pertumbuhan dan
perkembangan tanaman kacang hijau dengan pemberian intensitas penyinaran yang
berbeda?
Tujuan
-
Untuk mengetahui pengaruh cahaya
terhadap pertumbuhan pada biji kacang hijau.
-
Perbedaan pertumbuhan antara biji kacang
hijau yang terkena cahaya langsung, tak langsung dan tidak sama sekali
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kajian Teori
Pertumbuhan adalah proses
kenaikan volume yang bersifat irreversibel (tidak dapat balik), dan terjadi
karena adanya pertambahan jumlah sel dan pembesaran dari tiap-tiap sel. Pada
proses pertumbuhan biasa disertai dengan terjadinya perubahan bentuk.
Pertumbuhan dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif
Pada tanaman, pertumbuhan dimulai dari proses perkecambahan biji. Perkecambahan dapat terjadi apabila kandungan air dalam biji semakin tinggi karena masuknya air ke dalam biji melalui proses imbibisi. Apabila proses imbibisi sudah optimal, dimulailah perkecambahan.
Pada tanaman, pertumbuhan dimulai dari proses perkecambahan biji. Perkecambahan dapat terjadi apabila kandungan air dalam biji semakin tinggi karena masuknya air ke dalam biji melalui proses imbibisi. Apabila proses imbibisi sudah optimal, dimulailah perkecambahan.
Struktur yang pertama muncul,
yang menyobek selaput biji adalah radikula yang merupakan calon akar primer. Radikula adalah
bagian dari hipokotil.
Pada bagian ujung sebelah atas terdapat epikotil (calon batang). Berdasar
letak kotiledonnya, ada dua jenis perkecambahan yaitu tipe epigeal, dan tipe hypogeal
Pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder
Biji yang sudah berkecambah akan segera diikuti oleh pertumbuhan
primer karena pada pucuk dan ujung akar terdapat jaringan yang bersifat
meristematik (selalu membelah). Pemanjangan ujung akar dan ujung batang
tersebut disebut pertumbuhan primer. Pada tumbuhan dikotil
terdapat jaringan kambium yang
merupakan meristem sekunder akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan
sekunder (membesar).
Kambium akan membelah ke arah luar membentuk kulit kayu (floem), dan
membelah ke arah dalam membentuk kayu (xilem). Pada monokotil tidak
terdapat kambium sehingga hanya mengalami pertumbuhan primer saja. Pertumbuhan
primer dan sekunder berlangsung terus menerus selama tumbuhan tersebut hidup.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan
Pertumbuhan pada tumbuhan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
a. Faktor
luar
Faktor luar adalah materi atau hal-hal yang terdapat diluar
tanaman yang berdampak pada tanaman itu, baik secara langsung ataupun tidak
langsung. Termasuk ke dalam faktor luar adalah cahaya, temperatur, air,
garam-garam mineral, iklim, gravitasi bumi, dan lain-lain.
1. Nutrisi
Tumbuhan memerlukan unsur mineral dengan jumlah tertentu. Unsur yang diperlukan dalam jumlah banyak disebut unsur makro, sedangkan unsur yang diperlukan dalam jumlah sedikit disebut unsur mikro.
Tumbuhan memerlukan unsur mineral dengan jumlah tertentu. Unsur yang diperlukan dalam jumlah banyak disebut unsur makro, sedangkan unsur yang diperlukan dalam jumlah sedikit disebut unsur mikro.
2. Cahaya
Cahaya mutlak diperlukan oleh
semua tumbuhan hijau untuk melakukan fotosintesis,
tetapi pengaruhnya terhadap pertumbuhan perkecambahan tumbuhan adalah
menghambat, karena cahaya dapat menyebabkan terurainya auxin sehingga dapat menghambat
pertumbuhan. Hal ini dapat dibuktikan apabila kita meletakkan dua kecambah,
yang satu di tempat gelap dan yang lain di tempat terang. Dalam jangka waktu
yang sama, kecambah di tempat gelap tumbuh lebih cepat tetapi tidak normal.
Pertumbuhan yang amat cepat di dalam gelap ini disebut etiolasi.
Pada tumbuhan terdapat pigmen yang disebut fitokrom, yang berfungsi mengontrol pertumbuhan dan perkembangan kloroplas, sintesis klorofil, pembentukan hormon tumbuhan (misalnya giberelin), dan pengaturan posisi daun terhadap sinar matahari. Selain itu, fitokrom berpengaruh juga terhadap fotoperiodisme, yaitu pengaruh lamanya pengaruh pencahayaan terhadap pertumbuhan dan pembentukan bunga.
Pada tumbuhan terdapat pigmen yang disebut fitokrom, yang berfungsi mengontrol pertumbuhan dan perkembangan kloroplas, sintesis klorofil, pembentukan hormon tumbuhan (misalnya giberelin), dan pengaturan posisi daun terhadap sinar matahari. Selain itu, fitokrom berpengaruh juga terhadap fotoperiodisme, yaitu pengaruh lamanya pengaruh pencahayaan terhadap pertumbuhan dan pembentukan bunga.
Berdasarkan panjang dan intensitas penyinaran, tumbuhan
dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu:
- Tumbuhan berhari pendek (shortday plant) : Berbunga dan berbuah bila periode penyinaran
lebih pendek daripada periode kritis. Contohnya: strawberry, dahlia,
aster, dan krisatinum.
- Tumbuhan berhari panjang (longday plant) : berbunga dan berbuah bila periode penyinaran
lebih panjang daripada periode kritis. Contohnya: bayam selada, gandum,
dan kentang.
- Tumbuhan netral (dayneutral plant) : Tidak dipengaruhi oleh lamanya periode
penyinaran. Contoh: mawar, anyer, dan bunga matahari.
3. Suhu
Secara umum, suhu akan berpengaruh terhadap kerja enzim. Bila suhu
terlalu tinggi, enzim akan rusak, dan bila suhu terlalu rendah enzim
menjadi tidak aktif.
4. Kelembaban atau kadar air
Sampai pada batas-batas tertentu, makin tinggi kadar air,
pertumbuhan akan makin cepat. Karena lebih banyak kadar air yang diserap dan
lebih sedikit yang diuapkan, akan menyebabkan pembentangan sel-sel, dengan
demikian sel-sel lebih cepat mencapai ukuran maksimalnya.
b. Faktor
dalam
Selain faktor genetik, yang termasuk faktor-faktor
dalam adalah hormon-hormon yang terlibat dalam pertumbuhan
tanaman. Hormon merupakan substansi yang dihasilkan oleh tumbuhan, biasanya
dalam jumlah yang sangat sedikit yang berfungsi secara fisiologis mengendalikan
arah dan kecepatan tumbuh bagian-bagian dari tumbuhan.
Berikut ini adalah salah satu hormon pada tumbuhan beserta
fungsinya:
- Auksin :
Auksin dibentuk oleh ujung batang dan ujung akar. Auksin yang dihasilkan
oleh ujung batang akan mendominasi pertumbuhan batang utama, sehingga
pertumbuhan cabang relatif sedikit. Keadaan ini dikenal dengan istilah
dominansi apikal (apical dominance). Dengan memotong ujung batang,
dominansi apikal akan hilang, sehingga pertumbuhan cabang-cabang batang
berjalan dengan baik. Auksin dapat terurai bila terkena cahaya. Bila suatu
koleoptil dikenai cahaya dari samping, maka bagian koleoptil yang terkena
cahaya auksinnya akan terurai sehingga pertumbuhannya lebih lambat
daripada bagian koleoptil yang tidak terkena cahaya. Akibatnya koleoptil
akan tumbuh membelok ke arah datangnya sinar.
- Giberelin : Hormon ini berfungsi
mengatur pemanjangan batang (ruas batang), juga pertumbuhan pucuk dan
pembentukan buah. Secara umum fungsi giberelin adalah untuk merangsang
pertumbuhan meraksasa dan terbentuknya buah tanpa biji (partenokarpi).
- Sitokinin : Hormon tumbuhan ini
mempengaruhi pertumbuhan, pengaturan pembelahan sel, dan pemanjangan sel.
Konsentrasi sitokinin dan auksin yang seimbang merupakan hal yang sangat
penting dalam pertumbuhan tanaman. Sitokinin sendiri tampaknya mempunyai
peranan dalam memperpanjang usia jaringan.
- Asam Absisat (=
dormin) : Asam
absisat ditemukan pada umbi-umbian dan biji-biji yang dorman, beberapa
jenis buah-buahan, daun, dan jaringan tumbuhan lain. Secara fungsi asam
absisat adalah mempercepat penuaan daun, merangsang pengguguran daun, dan
memperpanjang masa dormansi (menghambat perkecambahan biji).
- Gas etilen : Buah yang sudah tua
menghasilkan gas etilen yang dianggap sebagai hormon yang dapat
mempercepat pemasakan buah yang masih mentah. Gas etilen meningkatkan respirasi sehingga buah yang asalnya
keras dan masam, menjadi empuk dan berasa manis.
- Kalin: Kalin
adalah hormon yang merangsang pembentukan organ tubuh. Berdasarkan organ
yang dibentuknya, kalin dibedakan atas:
- Kaulokalin
: merangsang pembentukan batang
- Rhyzokalin
: merangsang pembentukan akar. Sekarang telah diketahui bahwa rhyzokalin
identik dengan vitamin B1 (thiamin)
- Filokalin
: merangsang pembentukan daun
- Antokalin
: merangsang pembentukan bunga
- Asam traumalin : Batang atau akar tumbuhan
dapat mengalami luka. Tumbuhan memiliki kemampuan untuk memperbaiki bagian
yang luka, disebut daya restitusi atau regenerasi. Peristiwa ini terjadi
dengan bantuan hormon luka atau kambium luka atau asam traumalin. Lukaluka
yang terjadi dapat tertutup kembali dengan membentuk jaringan kalus dan
jaringan yang rusak dapat diganti dengan yang baru. Bahkan dari luka pada
bagian tertentu dari tubuh tumbuhan dapat tumbuh tunas baru.
Hipotesis
1. Hormon auksin yang
terkena cahaya matahari mempengaruhi pertumbuhan kacang hijau
2. pertumbuhan tanaman kacang hijau di tempat gelap batangnya akan lebih pajang dari pada yang terkena cahaya karena pengaruh hormon auksin
3. Pertumbuhan tanaman kacang hijau di tempat gelap batangnya berwarna putih pucat dan yang terkena cahaya tak langsung berwarna hijau sedangkan yang terkena cahaya langsung berwarna unggu di karenakan aktivitas hormon auksin dihambat oleh cahaya matahari
2. pertumbuhan tanaman kacang hijau di tempat gelap batangnya akan lebih pajang dari pada yang terkena cahaya karena pengaruh hormon auksin
3. Pertumbuhan tanaman kacang hijau di tempat gelap batangnya berwarna putih pucat dan yang terkena cahaya tak langsung berwarna hijau sedangkan yang terkena cahaya langsung berwarna unggu di karenakan aktivitas hormon auksin dihambat oleh cahaya matahari
Variabel Percobaan
a. Variabel
bebas : letak penempatan tanaman kecambah, label A pada tempat terkena cahaya
langsung, B tempat terkena cahaya tak langsung, dan C pada tembat tak terkena
cahaya
b. Variabel
terikat : tinggi batang kecambah, warna daun, warna batang, keadaan tanaman.
c. Variabel
kontrol : intesitas penyiraman, jenis biji kacang hijau, jenis media tanam
BAB III
RANCANGAN PENELITIAN
RANCANGAN PENELITIAN
Seting
Waktu
: Senin,5 agustus 2013-senin, 12 agustus 2013
Tempat
: Lingkungan rumah peneliti, A pada tempat terang, B tempat remang-remang, dan
C pada tempat gelap.
Popolasi
Dan Sempel
Alat dan Bahan
· Biji
kacang hijau ( 9 butir pada setiap gelas percobaan)
· Kapas
(media tumbuh)
· Gelas/
wadah (9 buah)
· Label
· Air
· Alat
tulis
· Penggaris
Prosedur Kerja
1. Sediakan
wadah untuk pengamatan pertumbuhan kacang hijau sebanyak 9 (Sembilan) gelas
2. masukan
kapas sebagai media pertumbuhan kacang hijau kedalam wadah yang di sediakan
3. masukan
sebutir biji kacang hijau kedalam wadah yang sudah di isi oleh kapas
4. beri
label terhadap ketiga wadah A yang terkena cahaya langsung, B terkena cahaya
tak langsung, dan C tempat gelap
5. Amati
tanaman kecambah, catat perkembangan dan pertumbuhannya selama 7 hari dengan
intenistas penyiraman yang sama.
BAB
IV
HASIL
PENELITIAN
Hasil
Pengamatan
Hari
Ke-
|
Tinggi batang kecambah
(mm)
|
||||||||
A
|
B
|
C
|
|||||||
I
|
II
|
III
|
I
|
II
|
III
|
I
|
II
|
III
|
|
1
Rata”
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
0
|
0
|
0
|
|||||||
2
Rata”
|
6
|
12
|
6
|
12
|
15
|
-
|
-
|
12
|
12
|
8
|
9
|
8
|
|||||||
3
Rata”
|
10
|
15
|
8
|
20
|
25
|
12
|
12
|
30
|
30
|
11
|
19
|
24
|
|||||||
4
Rata”
|
15
|
18
|
12
|
42
|
48
|
21
|
30
|
48
|
51
|
15
|
37
|
43
|
|||||||
5
Rata”
|
21
|
24
|
15
|
51
|
60
|
48
|
51
|
60
|
81
|
20
|
53
|
64
|
|||||||
6
Rata”
|
27
|
24
|
15
|
81
|
90
|
60
|
81
|
90
|
120
|
22
|
77
|
97
|
|||||||
7
Rata”
|
30
|
35
|
25
|
100
|
120
|
92
|
102
|
120
|
150
|
30
|
104
|
124
|
|||||||
Keterangan
:
A
: Tanaman pada tempat terkena cahaya langsung
B
: Tanaman pada tempat terkena cahaya tak langsung
C
: Tanaman pada tempat tak terkena cahaya
Analisa data
Pada data percobaan di atas
diketahui tanaman pada keadaan gelap tumbuh lebih cepat dibanding pada keadaan
terang, namun keadaannya tidak sebaik pada keadaan terang. Hal tersebut
dikarenakan sinar matahari memang berguna bagi fotosintesis pada tumbuhan,
namun efek lain dari sinar matahari adalah menekan hormon auksin dalam
pertumbuhan sel tumbuhan.
Pada tanaman yang tidak terkena
sinar matahari akan tumbuh dengan cepat, namun dengan kondisi warna daun pucat,
batang ringkih, dan daunnya tidak berkembang yang dinamakan dengan etiolasi.
ketidakberadaannya cahaya matahari, memacu tumbuhan untuk memproduksi hormon
auksin yang ditemukan pada sel-sel meristem seperti ujung barang dan ujung
akar. Hal ini dilakukan tumbuhan agar bisa segera mendapatkan cahaya matahari
agar dapat berfotosintesis.
Tanaman yang tidak mengalami fotosintesis
tentu saja kekurangan nutrisi yang berguana bagi pertumbuhan dan
perkembangan. Sehingga tingginya batang yang menjulang ke segala arah
pada tanaman berkeadaan gelap akan lebih cepat layu hingga mati. Pada keadaan
remang tanaman akan menjulang ke arah sinar matahari sebagai ciri tanaman
tersebut berfotosintesis.
BAB V
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Kesimpulan
Kesimpulanyang bisa di dapat dari
pengamatan ini adalah bahwa hormon auksin sengat berpengaruh terhadap
pertumbuhan tumbuhan tetapi aktivitasnya dihambat oleh cahaya matahari namun
cahaya matahari membuat kondisi tanaman lebih hijau dan sehat akibat proses
fotosintesis yang berperan sebagai penghasil makanan bagi tumbuhan
Daftar Pustaka


Tidak ada komentar:
Posting Komentar